Optimalkan Alur Pelayaran, TTL Group dan KSOP Tanjung Perak Terapkan Sistem EAZI untuk Pangkas Waktu Sandar Kapal

✍️ Ditulis oleh: kapalpedia 📅 Diperbarui: 9 Oktober 2026

SURABAYA — Dalam upaya memangkas waktu tunggu kapal dan menekan biaya logistik maritim nasional, Terminal Petikemas Teluk Lamong (TTL) Group bersama Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak resmi menerapkan skema Express Anchorage Zone Service (EAZI). Kolaborasi terpadu yang turut melibatkan Distrik Navigasi, PT Pelindo (Persero) Regional 3, dan Pelindo Jasa Maritim ini menjadi langkah strategis penataan alur pelayaran serta optimalisasi area lego jangkar di kawasan perairan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Operasional Terminal Petikemas Pelabuhan

Penataan Zona Labuh: Mengurai Antrean dan Mencegah Kemacetan Alur

Sebelum skema EAZI diuji coba, kapal-kapal niaga domestik kerap membuang sauh di zona lego jangkar (anchorage area) secara acak tanpa zonasi prioritas terstruktur. Ketidakteraturan ini kerap memicu penumpukan armada di mulut alur pelayaran sempit, yang berujung pada tingginya durasi tunggu olah gerak kapal hingga mencapai 4 hingga 6 jam sebelum memperoleh kepastian tambatan.

Melalui inovasi sistem EAZI, seluruh pergerakan kapal kini diatur berdasarkan parameter dan zona tunggu prioritas yang terukur secara dinamis. Koordinasi vessel traffic terintegrasi antara syahbandar, stasiun navigasi kapal, dan operator terminal memastikan kapal peti kemas yang dijadwalkan sandar dapat segera masuk ke dermaga tanpa terhambat antrean liar di perairan luar.

Uji Coba Berhasil Tingkatkan Kapasitas dan Arus Kontainer

Hasil evaluasi komprehensif memperlihatkan dampak positif yang signifikan bagi rantai logistik maritim. Berdasarkan data operasional, uji coba EAZI di Terminal Petikemas (TPK) Berlian terhadap 16 kapal berhasil menekan rata-rata waktu layanan olah gerak menjadi 2 jam 24 menit. Sementara itu, pada TPK Nilam yang melayani 176 kapal, rata-rata waktu layanan berhasil ditekan menjadi 2 jam 53 menit.

Efisiensi durasi labuh tersebut secara langsung mengerek kapasitas sandar terminal dari sebelumnya 14 kapal per minggu menjadi 17 kapal per minggu, atau mengalami kenaikan sebesar 21 persen. Lonjakan efisiensi ini turut mendorong volume arus barang (throughput) TTL Group yang menembus 1,2 juta TEUs dengan tren pertumbuhan konsisten di seluruh dermaga binaan.

Dampak Nyata terhadap Efisiensi Logistik Nasional

Direktur Utama TTL Group, David P. Sirait, menegaskan bahwa percepatan siklus operasional pelabuhan menuntut sinergi tanpa sekat antarotoritas. Dengan terpotongnya port stay (durasi keberadaan kapal di pelabuhan), perusahaan pelayaran dapat menekan biaya operasional bahan bakar kapal dan meningkatkan perputaran armada secara optimal.

Ke depan, standardisasi operasional berbasis manajemen navigasi terintegrasi ini diproyeksikan menjadi model percontohan bagi koridor pelabuhan hub lainnya di Indonesia guna memperkuat daya saing rantai pasok maritim nasional di kancah global.

Scroll to Top