Mengapa Pelaut Tidak Pernah Mengucapkan Kiri dan Kanan? Menelusuri Sejarah Starboard dan Port

✍️ Ditulis oleh: kapalpedia 📅 Diperbarui: 30 September 2026

Pernahkah Anda bertanya mengapa seorang nakhoda atau awak kapal pantang mengucapkan kata “kiri” atau “kanan” saat mengendalikan kapal di tengah samudra lepas? Di dunia maritim, kesalahan persepsi arah sekecil satu derajat dapat berujung pada tabrakan fatal. Inilah alasan mengapa dunia bahari global secara ketat menggunakan istilah universal: starboard untuk sisi kanan dan port untuk sisi kiri kapal.

Kapal Layar Kayu Tradisional dengan Sistem Kemudi Dayung Lambung
Ilustrasi konstruksi kapal kuno. Sebelum kemudi buritan modern diciptakan, navigasi dikendalikan oleh dayung kemudi panjang di lambung kanan kapal. (Sumber Foto: Pexels)

1. Anatomi Masalah: Mengapa “Left” dan “Right” Dilarang dalam Navigasi?

Dalam komunikasi darat sehari-hari, kata “kiri” dan “kanan” adalah konsep relatif yang bergantung pada arah hadap seseorang. Jika dua orang awak kapal berdiri saling berhadapan di geladak, sisi kanan orang pertama adalah sisi kiri orang kedua.

Kondisi ambigu ini sangat berbahaya dalam situasi darurat di laut, seperti manuver menghindari tubrukan atau operasi tambat di pelabuhan. Istilah Starboard dan Port diciptakan sebagai referensi absolut yang mengacu pada orientasi kapal itu sendiri, terlepas dari ke arah mana awak kapal sedang menghadap:

  • Starboard: Seluruh sisi kanan kapal ketika Anda menghadap lurus ke arah haluan (depan kapal).
  • Port: Seluruh sisi kiri kapal ketika Anda menghadap lurus ke arah haluan.

2. Asal-Usul Kata “Starboard”: Warisan Dayung Kemudi Kuno

Jauh sebelum daun kemudi tengah di buritan (centerline stern rudder) ditemukan pada abad pertengahan, kapal-kapal kuno bangsa Nordik (Viking) dan Anglo-Saxon dikemudikan menggunakan dayung kemudi raksasa khusus yang disebut steering oar.

Mayoritas manusia diciptakan tidak kidal (dominan tangan kanan). Oleh karena itu, juru mudi kapal kuno memasang dan mengoperasikan dayung kemudi panjang tersebut di sisi kanan lambung kapal agar memiliki daya ungkit dan kontrol fisik yang maksimal.

Dalam bahasa Inggris Kuno, kombinasi dua kata terbentuk:

  • Stéor: Berarti kemudi atau mengemudikan (cikal bakal kata modern steer).
  • Bord: Berarti sisi lambung kapal (cikal bakal kata modern board).

Perpaduan kata steorbord ini seiring berjalannya waktu mengalami pergeseran fonetik hingga menjadi kata baku yang kita kenal sekarang: Starboard.

Aktivitas Sandar Kapal di Dermaga Pelabuhan
Proses bersandar (berthing) di dermaga. Demi melindungi kemudi di lambung kanan, kapal era lampau selalu merapat pada lambung kiri menuju pelabuhan (port). (Sumber Foto: Pexels)

3. Dari “Larboard” Menjadi “Port”: Alasan Keselamatan yang Mengubah Sejarah

Jika sisi kanan adalah tempat juru mudi bekerja, bagaimana dengan sisi kiri kapal? Pada mulanya, bangsa pelaut menyebut lambung kiri dengan nama baecbord (karena punggung juru mudi membelakangi sisi tersebut saat mengayun kemudi). Istilah ini kemudian bertransformasi menjadi larboard, yang diduga berakar dari kata lade-board (sisi untuk memuat barang muatan atau kargo).

Namun, muncul masalah keselamatan yang sangat serius: pelafalan kata starboard dan larboard terdengar luar biasa mirip. Saat kapal berlayar menembus badai ganas, deru angin kencang dan deburan ombak besar sering membuat perintah nakhoda terdengar rancu di telinga juru mudi.

Kekeliruan pendengaran antara starboard dan larboard kerap memicu manuver kemudi yang berlawanan dan berakhir pada bencana kandas atau tubrukan karang. Untuk mengatasi risiko fatal ini:

  1. Pelaut mulai mengadopsi istilah Port, yang merujuk pada kebiasaan kapal kuno. Karena sisi kanan terpasang dayung kemudi yang rentan patah bila terhimpit beton dermaga, kapal selalu merapatkan lambung kirinya ke dermaga pelabuhan (port) saat bongkar muat kargo.
  2. Pada pertengahan abad ke-19 (tepatnya tahun 1844 oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris / Royal Navy dan disusul Angkatan Laut AS pada tahun 1846), penggunaan kata larboard secara resmi dilarang dan digantikan seutuhnya oleh kata Port demi kepastian keselamatan navigasi.

4. Konvensi Modern: Standarisasi Lampu Navigasi Internasional

Kini, sistem Port dan Starboard telah dibakukan secara hukum internasional oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO) melalui aturan COLREGs 1972 (Convention on the International Regulations for Preventing Collisions at Sea).

Setiap kapal niaga maupun kapal perang modern di seluruh dunia diwajibkan menyalakan lampu navigasi (running lights) saat berlayar di malam hari atau dalam cuaca berkabut dengan kode warna mutlak:

  • Port (Lambung Kiri): Menggunakan lampu berwarna Merah (Red).
  • Starboard (Lambung Kanan): Menggunakan lampu berwarna Hijau (Green).

Melalui kombinasi lampu ini, perwira navigasi di anjungan kapal lain dapat langsung mengidentifikasi arah haluan kapal lawan di tengah kegelapan pekat: apakah kapal tersebut sedang melintas mendekat dari kanan, kiri, atau berhadapan langsung.

Kesimpulan

Istilah starboard dan port bukan sekadar jargon pelaut atau romantisme masa lalu, melainkan bukti nyata evolusi rekayasa perkapalan dan protokol keselamatan maritim yang diasah selama ribuan tahun. Di dunia bahari di mana satu detik kesalahpahaman bernilai nyawa dan kargo bernilai miliaran rupiah, ketepatan bahasa adalah fondasi keselamatan pelayaran dunia.

Scroll to Top